Pars Pro Toto
Bah! Macam mana pula itu orang, tak tahan lagi
aku dengan kelakuannya. Dasar penjilat! Kalau ingin melengserkan aku sini
berantam saja sekalian. Sialan!
Yandi pulang kerja dengan
geram hari ini. Dia penuh dengan amarah, hampir meledak. Kalau saja dia tak
ingat anak istrinya, maka tadi pasti terjadi kericuhan di ruang rapat. Entah
sudah berapa kali, orang yang baru saja naik jabatan itu,
Gunawan, atau yang biasa
dipanggil “Engkoh” oleh orang-orang di kantor, “meludahi” idenya di hadapan
jajaran direksi perusahaan. Dia pun terus-terusan mendekati Pak Direktur, tak
pernah sehari pun, Yandi tak melihat Gunawan mencoba membuat Pak Direktur kagum
dengan segala “kemunafikannya”, atau setidaknya begitu menurut Yandi.
Dasar
Cina. Sialan kau. Demi karier pribadi, orang lain kau injak-injak. Lihat saja,
kalau ada Cina lagi yang melamar ke perusahaan, apalagi kalau kenalan si Sialan
itu, akan kupersulit atau kuatur biar ditolak sekalian. Begini-begini aku sudah
jadi manajer selama 10 tahun terakhir. Jangan macam-macam kau.
Gerutu Yandi dalam hatinya. Kejadian tadi membuat dia bak kesetanan. Yah,
mungkin Yandi hampir sampai di titik puncak kesabarannya.
Bzzzt.
Bzzzt. Yandi merasakan teleponnya bergetar di dalam
kantungnya. Ketika dia lihat, ternyata istrinya menelepon. Terang saja, sudah
pukul 10 malam tetapi dia masih di stasiun. Biasanya, pukul 8 dia sudah sampai
rumah. Namun karena tadi ada “peperangan” sengit di ruang rapat untuk
menentukan kebijakan perusahaan, mau tak mau rapat pun diperpanjang sampai ada
keputusan, karena besok sudah hari gajian.
“Tak usah kujawab lah.
Sedang emosi macam ini istriku kecipratan juga nanti.” Bisik Yandi. Dia memang
agak tempramen, tetapi kalau kepada keluarganya, dia luar biasa baik hati.
Masih “panas”, dia
memutuskan untuk mendengarkan musik untuk sedikit menenangkan suasana hatinya.
Dia colok headset lalu dia putar lagu
favoritnya, tetapi ternyata tak berhasil juga. Suasana hatinya betul-betul
kacau saat ini. Akhirnya, dia masukan lagi telepon dan headsetnya ke dalam kantung, lalu dia beristighfar.
“Astagfirullah.. belum
sholat pula aku bah. Pantas emosi begini.” Bisiknya lagi sambil mengusap
dahinya. Dia beranjak menuju mushola, tetapi kereta tujuan Bogor sudah tiba.
“Yasudah di rumah saja
lah. Sudah telat juga.” Kata Yandi. Dia hela napas panjang, lalu dia masuk ke
kereta.
Di dalam gerbong agak
sepi. Hanya ada 10-12 orang. Kalau biasa harus berjibaku berebut masuk, kini
dia bebas untuk duduk di manapun dia mau.
“Alhamdulillah…” dia
bilang begitu dia duduk. Setelah agak lama berdiri menunggu kereta dan jalan
dari kantor ke stasiun, akhirnya kakinya bisa istirahat. Amarahnya kini sudah
mulai mereda, namun kepalanya menjadi berat. Pusing. Kepala bagian belakangnya
seakan dicengkram. Darah tingginya mulai kambuh lagi. Dia sandarkan kepalanya
ke kaca, mencoba mendapatkan posisi yang relaks untuk meredakan sakit kepalanya
itu.
Yandi bukan sudah tenang.
Di dalam hatinya, dia masih kesal, sangat kesal. Siapa yang tak marah bila
idemu dikatakan konyol, di depan atasan pula. Kalau memang tak setuju, kritik yang sopan lah. Yandi bergumam
dalam hatinya.
Sesaat ketika pintu mau
ditutup, seorang pria berlari masuk ke dalam kereta. Hampir saja dia
ketinggalan. Mata sipitnya, kulit putih pucatnya, mengingatkan dia dengan
Gunawan. Bagaimana aku mau tidak pikirkan
si kurang ajar itu bah. Kata Yandi dalam hati.
Semua tempat duduk sudah
ditempati. Semua kecuali satu di sebelah Yandi. Setelah melirik kanan-kiri,
mata lelaki tersebut tertuju ke tempat yang masih kosong itu. Dia taruh tas
punggungnya di atas, lalu dia duduk.
“Permisi sedikit ya,
Pak.” Katanya kepada Yandi.
“Yok. Yok.” Balasnya
singkat. Yandi sangat enggan bicara saat ini. Apalagi kepada orang di
sebelahnya, yang mengingatkan dia akan musuhnya di kantor.
Tak lama setelah duduk,
lelaki itu mengambil teleponnya dari kantung, lalu dia mengetik nama kontak
untuk ditelepon. Suara teleponnya agak keras, Yandi yang duduk di sebelahnya
bisa mendengar nada sambungnya. Selang beberapa detik, suara seorang lelaki
terdengar mengatakan “Halo selamat malam pak Budi, ada apa ya, Pak?”
“Anu Pak, bagaimana
kabar? Bisnis lancar? Hehehe”
“Ya lancar-lancar saja
lah. Puji Tuhan sejauh ini tidak ada masalah yang merugikan dan saya dalam
keadaan sehat. Bagaimana dengan Bapak?”
“Sehat... sehat… Yah
lihat saja badan saya yang subur ini Pak hahaha.” Dia tertawa agak kencang.
Yandi agak terganggu dengan tawanya itu.
“Jadi begini Pak, saya
ada produk baru, nah kayaknya cocok nih dengan usaha Bapak. Kira-kira Bapak…..”
Yandi memasang headset dan memutar music
kencang-kencang. Dia muak melihat kelakuan lelaki di sebelahnya itu. Dasar Cina. Malam-malam masih saja prospek
orang. Apalagi orang itu membuat Yandi mengingat Gunawan. Semakin kesal lah
dia.
Tujuannya stasiun Bogor,
sekarang masih di Manggarai, Yandi mencoba untuk tidur, tetapi tidak bisa.
Kepalanya sakit dan posisi duduknya kurang enak. Dia tengok kanan kiri, lelaki
di sebelahnya telah berhenti menelepon. Melihat itu, Yandi melepas headsetnya. Toh tadi hanya agar dia tak
mendengar pembicaraan yang membuat kepalanya makin sakit itu dan lagu apapun
yang dia dengar saat ini terdengar tidak enak.
Ketika dia kira si lelaki
itu tak akan menelepon lagi, ternyata dia mengetik nomor lagi. Bah. Gila kali ini Cina. Kata Yandi
dalam hati, sambil sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.
Entah terdengar atau
lelaki itu melihat Yandi menggeleng, dia bertanya kepada Yandi.
“Mengganggu ya, Pak? Hehe
maaf Pak saya mau telepon istri sebentar saja kok. Ada miscall dari dia. Maaf ya, Pak.” Katanya sambil tersenyum.
Melihat kesantunan dan
keramahan lelaki itu, Yandi juga membalasnya dengan senyum.
“TIdak apa-apa, Pak.
Istri saya tadi juga telepon, saya paham lah, hehe.” Katanya.
Lelaki tadi hanya
tersenyum. Teleponnya sudah diangkat. Seperti tadi, volume suara teleponnya
terdengar oleh Yandi. Sekarang, itu suara anak kecil.
“Halo Sayang, Ibu mana,
Nak? Kok kamu belum tidur? Besok kan sekolah hayo.” Kata lelaki itu dengan
lembut kepada anaknya.
“Bapak di mana? Aku mau
tunggu Bapak dulu ah.” Suaranya terdengar seperti anak perempuan. Mengingatkan
Yandi akan Mentari, anak perempuannya di rumah.
“Bapak pulang malam, Nak.
Kamu tidur lah sana… sudah larut ah anak kecil kok tidur malam-malam. Panggil
Ibu tolong ya, Nak.”
“Yah…. Yasudah deh.” Kata
anak itu terdengar kecewa.
“Hehe maafin Bapak ya,
Nak.”
Suara anak itu sudah tak
terdengar dengan jelas. Hanya terdengar “Ibuuu…”
dengan suara samar.
Setelah menunggu sejenak,
lelaki itu berbicara lagi. Kali ini, dia bicara agak serius.
“Bapak lagi di kereta,
mau ke rumah mas Darmawan dulu baru Bapak pulang ya.” Kata pria itu kepada
istrinya di telepon.
“Lho ya besok saja lah,
Pak… sudah larut juga.” Kata istrinya di telepon. Suaranya terdengar samar
tetapi Yandi masih bisa mendengar karena dia dan lelaki itu duduk bersebelahan.
“Tidak apa-apa, Bu. Ini
tinggal antar barang saja kok. Tadi sudah sepakat dan uangnya sudah ditransfer
juga. Sekalian, kan arahnya sama dengan rumah.”
“Yasudah Bapak jangan
capek-capek ya.”
“Iya Bu. Ibu juga jangan
terlalu memaksakan diri kalau jualan. Hari ini laku, Bu?”
“Puji Tuhan Pak hari ini
habis. Ohiya tadi tagihan listrik sudah Ibu bayar. Cuma untuk air belum nih,
Pak… kalau lusa belum bayar kita kena denda.”
“Oh yasudah lah kita
bicarakan lagi nanti di rumah. Bapak lagi di kereta tidak enak juga kalau hal
kayak begini dibicarakan di sini. Yasudah Ibu istirahat lah sana. Putri suruh
tidur tuh Bu besok dia sekolah kan.”
“Iya Pak… Putri tadi
habis mengerjakan PR makanya belum tidur. Itu sekarang dia sudah di kamar.”
Lelaki itu tersenyum.
“Yasudah deh. Bapak juga
sudah makan tadi di warteg jadi Ibu langsung tidur saja. Tidak usah tunggu
Bapak.”
“Iya Pak… Bapak hati-hati
ya.”
“Iya Bu…”
Telepon ditutup. Yandi
sebetulnya sedikit heran. Mengapa volume percakapan teleponnya diatur
kencang-kencang. Walaupun tadi dia bicara pelan, orang yang berada di dekatnya
masih bisa mendengar percakapannya itu, seperti Yandi misalnya. Bukankah setiap
orang perlu privasi?
Penasaran, Yandi pun
menanyakannya kepada lelaki itu.
“Suara teleponnya terlalu
keras, Pak. Saya jadi tidak sengaja dengar hehe.” Kata Yandi mencoba memulai
percakapan.
“Iya, Pak. Aduh saya
mohon maaf…. Kuping saya sedikit bermasalah karena dulu diplonco, jadi suaranya
harus agak kencang. Sebetulnya saya ada headset,
cuma sudah rusak.” Terangnya.
Yandi merogoh kantung
celananya. Dia mengambil headsetnya
lalu memberikannya kepada lelaki itu.
“Ini, Pak. Saya ada
lebih. Bapak pakai saja.” Kata Yandi.
“Tidak usah, Pak. Terima kasih,
tapi saya tidak enak. Terima kasih hehe.”
“Tidak apa-apa, Pak.
Ambil saja. Saya punya dua buat apa juga. Terlebih, Bapak lebih butuh daripada
saya cuma pakai untuk dengar musik.”
“Waduh… Pak… Saya…”
Lelaki itu tak tahu harus bicara apa.
“Sudah ambil. Saya jarang
lihat orang santun seperti Bapak. Anggap ini rezeki dari Tuhan dan saya hanya
perantaranya.”
“Terima kasih, Pak.
Semoga Tuhan memberkati Anda.” Lelaki itu mengambil pemberian Yandi sambil
tersenyum lebar.
“Iya sama-sama. Ohiya
ngomong-ngomong, saya Yandi.” Yandi menyodorkan tangannya.
“Arif. Senang berkenalan
dengan Anda.” Mereka berjabat tangan.
“Turun di stasiun mana,
Pak?” kata Yandi.
“Saya di Depok, Pak.
Bapak turun di mana?”
“Di Bogor. Masih jauh
saya.”
“Haha iya Pak betul.
Biasanya saya tidur. Cuma sekarang kepala saya pusing jadi tidak bisa. Posisi
tidak ada yang benar rasanya.”
“Hahaha betul Pak betul.
Saya juga kalau pusing tuh susah mau melakukan apapun. Termasuk tidur. Ya itu,
posisi tidak ada yang enak hehehe.”
“Yah begitulah, Pak.
Sudah mulai tua kita hahaha.”
Mereka dua tertawa lepas.
Setelah itu, mereka terus berbincang seru. Topik apapun dibicarakan. Politik,
ekonomi, kemacetan lalu lintas, sampai hal-hal sepele seperti cuaca tadi siang
dan sebagainya. Perbincangan itu berlangsung sampai akhirnya kereta sampai di
stasiun Depok.
“Wah sudah sampai. Tidak
terasa nih hehehe.” Kata Arif.
“Haha iya. Saya juga
kaget sudah sampai Depok saja ini.” Balas Yandi.
“Yasudah. Saya duluan ya,
Pak. Semoga kita bertemu lagi suatu saat nanti.”
“Amin….”
“Yok Pak mari. Sudah
ditunggu anak istri hehehe.” Kata Arif sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Ayok….” Balas Yandi
dengan senyum.
Betul-betul
jarang ada orang seperti ini zaman sekarang. Pekerja keras, lembut sama
keluarga, ramah dan santun juga. Kukira semua orang Cina semacam si Bodat itu,
yang di pikirannya hanya uang dan karier saja.
Gumam Yandi dalam hati.
Bah…
hampir saja aku jadi orang rasis. Astagfirullah…